Padang, Gerbang Masuk Sumatera Barat - White Horse | Sewa Bus | Harga Bus Pariwisata

Sewa Bus

Harga Bus Pariwisata

Padang, Gerbang Masuk Sumatera Barat

Friday, 05 October 2018

http://getlost.id/wp-content/uploads/2018/06/Masjid-Raya-Sumatera-Barat-696x464.jpg

Sumatera Barat bisa dikatakan sebagai destinasi wisata yang lengkap karena menawarkan varian atraksi yang dapat memenuhi kebutuhan wisatawan. Provinsi ini memiliki wisata alam yang tiada tara; bagi pemburu tempat-tempat bersejarah bisa mendatangi sejumlah museum, monumen, dan bangunan peninggalan zaman penjajahan; yang gemar wisata kuliner, jangan ditanya kehebatan masakan khas tanah Minang yang makin berjaya setelah sajian rendang diakui UNESCO sebagai makanan khas Indonesia. Bertualang mengitari Sumatera Barat membawa kita ke empat kota penting yang berdiri dengan pesonanya masing-masing, yaitu Padang si ibu kota, Bukittinggi yang dideskripsikan sebagai Yogyakarta-nya Sumatera, kota tambang Sawahlunto, dan Payakumbuh yang menawan.

Sebagai salah satu kota besar di Pulau Sumatera, Padang kian berkembang secara ekonomi, berbeda dengan ranah wisata. Beberapa waktu silam Padang hanya dijadikan tempat persinggahan saat mendarat di Bandara Internasional Minangkabau, sebelum beranjak ke kota-kota lain di Sumatera Barat yang dirasa lebih menarik. Namun, hal ini berubah seiring dengan penambahan infrastruktur, apalagi sejak Padang menjadi salah satu kota di Sumatera Barat yang turut serta dalam perhelatan lomba balap sepeda tingkat internasional, Tour de Singkarak. Padang semakin geliat menunjukkan diri, tak lagi menjadi sebatas gerbang masuk.

Yang Menarik di Padang

Idealnya untuk menjelajah kota Padang dibutuhkan waktu dua hari, dengan kondisi perjalanan dilakukan tanpa memburu waktu agar pejalan bisa menikmati tiap destinasi yang dikunjungi. Jika ingin melakukan penjelajahan ke pulau-pulau sekitar Padang atau mengunjungi pantai-pantai di sekitaran Padang Pariaman, sediakan satu hari untuk mengitarinya. Kami rangkum beberapa destinasi pilihan yang bisa dikunjungi saat berlibur di Padang.

  • Masjid Raya Sumatera Barat

Dibangun pada 2007 silam, Masjid Raya Sumatera Barat tidak hanya menjadi kebanggaan warga Padang dan sekitarnya, namun juga menjadi salah satu destinasi yang disasar para wisatawan. Jika baru tiba dari arah Bandara Internasional Minangkabau, posisi masjid berada sesaat sebelum memasuki pusat kota, dan dari jauh sudah terlihat lekuk atap bangunan yang khas seperti rumah gadang, rumah khas Minangkabau. Sebagai tempat ibadah, masjid ini mendapat kehormatan menyambut Presiden Joko Widodo yang melakukan salat Ied Idul Fitri saat merayakan Lebaran di kota Padang pada 2016. Selain itu, masjid raya ini dipusatkan menjadi tuan rumah kegiatan keagamaan berskala regional, mulai dari tablig akbar dan pertemuan jamaah.

  • Pantai Padang

Objek wisata alam kesukaan warga lokal yang kerap menghabiskan waktu di sini menjelang sore, tak terlepas hari kerja maupun akhir pekan. Sering disebut taplau, singkatan dari tapi lauik, yang diartikan tepi laut, Pantai Padang membentang dari daerah Purus hingga muara Batang Arau. Memang Pantai Padang bukanlah tipikal pantai berpasir putih dan warna air bergradasi biru-pirus seperti pantai-pantai di kawasan Indonesia Timur, malah arus pantai cenderung kencang karena berbatasan langsung dengan Samudra Hindia. Namun, keindahan Pantai Padang tersaji sempurna saat mentari terbenam, inilah salah satu lokasi terbaik di Padang untuk menikmati senja, ditambah tak ada biaya masuk yang dibebankan untuk menikmati semua itu. Pengunjung biasanya duduk-duduk di tepi pantai sembari menikmati pisang bakar atau kudapan lainnya, ada pula yang bermain layang-layang, sisanya sibuk berpose di depan Monumen Merpati Perdamaian yang berada dekat tepian pantai, yang diresmikan Presiden Joko Widodo pada 2016.

http://getlost.id/wp-content/uploads/2018/06/Jembatan-Siti-Nurbaya.jpg

  • Kota Tua Padang

Padang juga memiliki kawasan Kota Tua yang berada di pesisir Sungai Batang Arau, yang tampak apik dengan bangunan-bangunan berciri khas Belanda dan Tiongkok. Datanglah pagi hari atau menjelang sore saat matahari tidak bersinar pekat, cukup berjalan kaki atau naik sepeda menyusuri  jalan dan lorong pejalan seperti ditarik ke masa lalu. Mulailah penjelajahan dari Jalan Keleteng, lalu ke Jalan batang Arau, diteruskan ke Jalan Pasa Batipuah, di mana sepanjang jalan akan ditemui bangunan-bangunan tua yang menarik sebagai objek foto. Tak jauh dari kawasan Kota Tua, wisatawan bisa melintas di Jembatan Siti Nurbaya yang menawarkan pemandangan ke arah Pelabuhan Muaro dengan kapal-kapal kayu yang diparkir di tepi sungai atau hanya untuk menikmati suasana sambil menyantap jagung atau pisang bakar. Bisa juga memilih untuk menyeberangi Jembatan Kuning yang tak jauh dari Jembatan Siti Nurbaya untuk menyusuri Jalan Palinggam. Pastikan untuk mengunjungi Kelenteng See Hien Kiong yang berada di Jalan Kelenteng, yang pindah lokasi setelah bangunan sebelumnya diguncang gempa bumi. Kelenteng See Hien Kiong awalnya bernama Kelenteng Kwam Im Teng yang dibangun sekitar 1861, bermaterialkan kayu dan beratapkan daum rumbia oleh pedangang asal Tiongkok bermarga Tjian gan Tjoan Tjioe.

  • Pantai Air Manis dan Batu Malin Kundang

Legenda ataupun kisah nyata, Malin Kundang yang dikutuk menjadi batu menjadi salah satu kisah menarik yang sudah diturunkan dari generasi ke generasi, terlebih karena mengandung pesan moril yang mendalam. Bagi mereka yang baru pertama kali bertamu di Padang tak ingin melewatkan kesempatan untuk melihat langsung hamparan batu di Pantai Air Manis yang dapat ditempuh dari kota Padang sekitar 45 menit perjalanan. Dengan tiket masuk Rp 5.000 per orang, pengunjung bisa memasuki areal pantai dan bergerak menuju tepiannya untuk melihat langsung hamparan batu yang membentuk seperti orang yang sedang bersujud. Tak ada yang tahu sejak kampan hamparan batu ini muncul dan dipercaya sebagai anak yang dikutuk menjadi batu. Karena sering terkikis air laut, warga setempat berusaha melestarikan batu tersebut dengan menambal bagian yang terkikis degnan semen. Di sekitar pantai juga terdapat pohon batun dengan buah yang mirip siwalan. Konon daunnya yang lebar-lebar itu digunakan oleh Emak si Malin untuk membungkus makanan ketika ia tahu kapal Malin akan merapat di Air Manis. Di balik bukit Air Manis pun terdapat sebuah perkampungan yang dipercaya sebagai tempat Malin dan ibundanya pernah tinggal.

http://getlost.id/wp-content/uploads/2018/06/Cubadak-Island-1.jpgJelajah Sekitar Padang

  • Wisata Pulau

Selain mengitari kawasan pusat kota dan sekitarnya, pejalan bisa menikmati wisata ke Pulau Pasumpahan, Pulau Pagang, Pulau Pemutusan, dan Pulau Sikuai yang dikelilingi pantai-pantai cantik, yang bisa diakses dari Pantai Bungus yang berjarak sekitar 20 kilometer di selatan Padang. Dari situ, pejalan bisa menggunakan jasa tur sehari yang tersedia mudah dengan tarif mulai dari Rp 250.000-Rp 350.000 per orang, di mana paket tur biasanya sudah termasuk makan siang dan peralatan menyelam. Jika ingin menyingkir dari keramaian, Pulau Cubadak yang sepi bisa menjadi alternatif destinasi yang juga menawarkan perairan jernih dan pasir putih. Pulau ini memiliki sebuah resor, yaitu Cubadak Paradiso Village yang dapat diakses dari Pelabuhan Coro Cok yang berjarak sekitar dua jam perjalanan dari pusat kota Padang. Untuk paket menginap semalam (sudah termasuk tiga kali makan, fasilitas peralatan snorkeling, bermain kano, serta biaya penjemputan dan pengantaran) tamu dikenakan tarif mulai dari Rp 1.500.000.

  • Pantai-pantai di Padang Pariaman

Jika baru mendarat di Padang, bisa melakukan kunjungan setengah hari ke beberapa pantai yang berada di Kabupaten Padang Pariaman. Letak Bandara Internasional Minangkabau yang masih berada di Kabupaten Padang Pariaman tentunya akan memangkas waktu perjalanan ke Pariaman dibandingkan mesti ke Padang terlebih dulu. Sekiranya dibutuhkan sekitar satu jam perjalanan dari bandara untuk mencapai Pantai Gandoriah, salah satu pantai populer di Pariaman yang menjadi tuan rumah penyelenggaraan Festival Tabuik yang dirayakan untuk memperingati Asyura, gugurnya Imam Husain, cucu Muhammad. Tabuik yang adalah usungan jenazah akan dibawa selama prosesi, kemudian dilabuhkan ke laut setiap tahunnya sejak 1831, tepatnya pada 10 Muharram. Susuri juga Pantai Kata yang merupakan singkatan dari Pantai Karan Aur-Taluak, yang khas dengan taman pinus dan makanan laut yang dijajakan penduduk setempat. Jika mencari pantai yang minim pengunjung, ada Pantai Arta yang terletak di Jalan Raya Padang-Lubuk Basung.

 

Pilihan Tempat Kuliner di Padang

  • Soto Garuda, Jl. Letjen S. Parman 112-B-C-E, jam buka: 07:00-21:00
  • RM Lamun Ombak, Jl. Kapten Sulaiman No. 99, jam buka: 07:30-22:00
  • Es Durian Ganti Nan Lamo, Jl. Pulau Karam No. 103B, jam buka: 08:00-22:30
  • Martabak Kubang Hayuda, Jl. Moh. Yamin No. 138, jam buka: 14:00-00:00

Selepas Padang, petualangan mengitari Sumatera Barat dilanjutkan ke kota berhawa sejuk di Kabupaten Agam, yang sempat menjadi ibu kota Indonesia semasa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) periode 1948-1949. Disapa Bukittinggi, kota ini cantik searah mata memandang, sarat sejarah, serta berlimpah kuliner yang menggoyang lidah.

 

Sumber: Get Lost

 

Artikel Terpopuler